Sekolah Sebagai Sistem Sosial

BAB I
PENDAHULUAN


Perkembangan peserta didik merupakan suatu aspek pendidikan dimana seorang guru dituntut untuk memahami dan mengawal dalam setiap tahap perkembangan, agar proses pendidikan dapat berhasil sesuai dengan apa yang diinginkan oleh pendidik dan peserta didik.

Perkembangan itu pun harus dikawal dalam semua lingkungan peserta didik, meliputi: lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Lingkungan-lingkungan itu yang banyak mempengaruhi pola pikir dan dan tingkah laku seorang peserta didik. Dan suasana yang diciptakan dari lingkungan-lingkungan tersebut itu yang akan menjadi budaya bagi peserta didik.

Kebudayaan sekolah mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap pola perilaku anak didik, terutama dalam proses belajar mengajar. Ternyata apa yang dihayati oleh siswa seperti sikap dalam belajar, sikap terhadap kewibawaan, dan sikap terhadap nilai-nilai tidak berasal dari kurikulum sekolah yang formal, melainkan berasal dari kebudayaan sekolah itu.
Maka dari tu, segala aspek yang menjadi unsur sekolah berpengaruh pada pola pikir peserta didik. Baik berupa lokasi sekolah, tata kelas, sistem sosial yang ada di sekolah, dan lain sebagaimana.

BAB II
PEMBAHASAN


SEKOLAH SEBAGAI SISTEM SOSIAL
1.      KULTUR SEKOLAH
            Sekolah adalah sebuah konsep yang mempunyai makna ganda. Pertama, sekolah berarti suatu bangunan atau lingkungan fisik dengan segala perlengkapannya yang merupakan tempat untuk menyelenggarakan proses pendidikan tertentu bagi kelompok manusia tertentu. Dengan demikian, apabila kita mendengar perkataan “sekolah” maka yang terbayang adalah lingkungan fisik seperti  itu. Bayangan sekolah sebagai lingkungan fisik seperti itu diperkuat dengan keseragaman relative mengenai bentuk bangunan dan perlengkapannya,sehingga dapat dikatakan bahwa kondisi fisik sekolah-sekolah yang sejenis dan setingkat relative sama. Kedua,sekolah berarti suatu proses atau kegiatan belajar mengajar. Kita bisa menggunakan istilah “menyekolahkan” anak, atau mengatakan”anak  saya bersekolah SMP Negeri 1”. Dalam hal ini apabila mendengar perkataan”sekolah”maka yang terbayang di kepala kita adalah proses pendidikan itu sendiri.

Jadi dalam hal ini sekolah dipandang sebagai sebuah pranata untuk memenuhi kebutuhan khusus tertentu. Bisa juga “sekolah”diartikan sebagai sebuah organisasi ,yaitu organiasi soSial yang mempunyai struktur tertentu yang melibatkan sejumlah orang dengan tugas melaksanakan suatu fungsi untuk memenuhi suatu kebutuhan. Sesungguhnya ketiga pengertian itu selalu berdampingan,karena proses belajar berjalan dalam sebuah lokasi dan diselenggarakan oleh organisasi yang mempunyai struktur dan tujuan tertentu. Penampilan keterpaduan antara ketiga makna tersebut dipengaruhi oleh berbagai factor seperti jumlah,tingkat usia, serta karakteristik lain yang menandai orang-orang yang terlibat didalamnya serta tujuan,program kerja dan kegiatan yang dilaksanakan,lama waktu penyelenggaraan,dan pendekatan yang digunakan. Akan tetapi diantara semuanya itu terdapat persamaan yaitu bahwa setiap lembaga yang dinamakan sekolah berperan mengurusi manusia,bukan mengurusi benda-benda mati.

Dalam mengurusi manusia, sekolah mempunyai ciri-ciri yang bersamaan dengan rumah sakit, rumah penjara,rumah perawatan anak-anak terlantar. Persamaan karakteristik yang terdapat pada lembaga atau badan yang mengurusi manusia adalah:
1.      Bahwa yang diurusi (klien) itu bersifat sementara. Ini berarti bahwa sesudah selesai mendapatkan pelayanan lalu klien itu pergi tanpa terimakasih.
2.      Sampai  batas-batas tertentu keberhasilan pelayanan memerlukan partisipasi pihak lain.
3.      Klien itu sangat heterogen,masing-masing membawa karakteristik sendiri,sehingga menimbulkan masalah-masalah khusus yang harus ditangani secara tersendiri.
4.      Semua badan itu harus menyadari bahwa kliennya dapat mempengaruhi organisasi dan stafnya yang tidak terduga sebelumnya.

Sekolah dirancang untuki melaksanakan pembimbingan dalam sebagian perkembangan hidup manusia. Sekoilah melanjutkan proses sosialisasi yang telah dilakukan sebelumnya yaitu dalam keluarga dan lingkungan sekitar rumah tangga,dan menyiapkan anak untuk memasuki tahapan hidup selanjutnya. Hal ini yang membedakan sekolah dari organisasi lain yang mengurusi manusia adalah bahwa sekolah menghadapi kliennya dalam bentuk kelompok,bukan sebagai individu seperti yang terjadi dirumah sakit terhadap pasiennya atau di rumah penjara terhadap tahanan-tahanannya. Juga sekolah menetapkan terlebih dahulu penerimaan klien dan pengeluaran mereka,sedangkan rumah sakit dan rumah penjara tidak melakukannya.

Kehidupan merupakan sebuah sistem yang terdiri atas berbagai sub sistem yang pada gilirannya bisa dipandang sebagai suatu system pula. Sub system=sub system itu bukan saja berkaitan satu sama lain melainkan juga saling tergantung. Mereka berbagai fungsi untuk kelangsungan hidup dan eksistensi sistem secara keseluruhan.

Setiap sekolah memiliki komponen-komponen sarana fisik seperti lahan,bangunan (kantor, ruang belajar,jamban,dan lain-lain),kurikulum,dan orang-orang (guru,pimpinan,karyawan non edukatif, dan pelajar). Komponen-komponen tersebut menyumbang dengan fungsi dan perannya untuk keberhasilan lembaga. Sebagai sebuah system,sekolah mempunyai keterkaitan dengan sistem lain yang jumlahnya tidak sedikit. Sistem luar itu meliputi antara lain orang tua siswa,komuniti sekitar sekolah dll. Pola hubungan antara sekolah dengan system lain diwarnai dan diisi dengan informasi-informasi yang berarah timbale balik. Input atau timbal balik itu dapat berupa dorongan bagi sekolah untuk mengadakan perubahan pada struktur atau interaksi edukatif di dalamnya atau untuk mempertahankan yang telah ada. Umpan balik yang menimbulkan perubahan disebut morfogenis,sedangkan yang mendorong untuk mempertahankan corak struktur dan interaksi yang telah ada dinamakan umpan balik yang bersifat morfostatis.

2.      KELAS SEBAGAI SISTEM SOSIAL
Sekolah terdiri atas kelas-kelas yang juga dapat dianalisis sebagai sebuah system. Pengertian kelas dalam konteks sekolah dapat menimbulkan dua macam asosiasi yaitu kelas sebagai ruangan tempat proses pendidikan berlangsung dan kelas sebagai sekelompok atau sejumlah pelajar yang bersama-sam menempuh suatu matapelajaran pada suatu lembaga pendidikan. Yang terakhir Kelas dapat di artikan sebagai sejumlah pelajar yang untuk periode tertentu,misalnya satu tahun,menempuh paket prigram yang sam atau hanya untuk sebuah mata pelajaran saja. Disini kelas diartikan sebagai sekelompok pelajar seperti tersebut tadi tanpa memperhatikan apakah mereka menempuh satu paket program pendidikan bersama-sama ataukah hanya satu atau beberapa mata pelajaran saja.

Pada umumnya disekolah-sekolah tradisional pelajar dalam satu kelas menempuh paket pendidikan yang sama sehingga karenanya mereka berada pada tingkat ketempuhan program yang sama. Pada system pendidikan yang baru,setiap pelajar mempunyai program pendidikan yang tersusun secara individual, dalam arti seorang pelajar mempunyai program pendidikan yang berlainan dengan pelajar yang lainnya. Dengan demikian sebuah kelas mungkin terdiri dari atas mahasiswa yang hanya bertemu dalam mata pelajaran tertentu saja.

Sesungguhnya dalam kelas ini fungsi dan kesibukan formal yang pokok diselenggarakan suatu sekolah. Di sekolah dasar, seorang guru mengajar sepanjang tahun pelajaran. Ia mengajarkan seluruh mata pelajaran di kelas itu kecuali mata pelajaran agama, olahraga dan kesenian yang telah diajarkan oleh guru khusus. Guru SD umumnya merupakan guru kelas. Di SLTP dan SLTA guru mengajarkan dan bertanggung jawab mengenai satu mata pelajaran tertentu saja tetapi untuk semua kelas, setidak-tidaknya yang setingkat. Di perguruan tinggi lain halnya meskipun seorang dosen pada dasarnya dosen mata kuliah, ia dapat memiliki latar belakang pendidikan yang tidak konsisten dengan mata kuliah yang diajarkannya tetapi diakui sebagai ahli dalam mata kuliah itu. Rekrutmen tenaga dosen dapat mengikuti system terbuka.

Fungsi dan peran sekolah dalam proses sosialisasi yaitu mempersiapkan seorang agar menjadi warga dewasa dalam masyarakat, diselenggarakan terutama melalui proses pendidikan dalam kelas dalam melaksanakan fungsi ini sekolah bekerjasama dengan keluarga, lingkungan, organisasi, dan lembaga-lembaga lain yang hidup di masyarakat . kerjasama itu mungkin tidak  dilaksanakan secara formal, meskipun tidak tertutup kemungkinan memformalkannya. Akan tetapi, selama anak atau pemuda berstatus pelajar, sekolahnyalah yang dipandang sebagai sosialisasi terpenting. Sekolah harus bertanggung jawab mengenai hasil proses sosialisasi anak sebelum menjadi pelajar di sekolah itu dan proses sosialisasi yang berlangsung diluar sekolah selama yang bersangkutan menjadi pelajar itu. Sebagaimana  diketahui sosialisasi meliputi internalisasi nilai-nilai sosial cultural, norma-norma dan peran-peran sosial. Peran-peran itu dikategorisasikan dalam dua kelompok, yaitu peran-peran yang dilakukan dengan kompetensi “Teknis” yang berarti mahir dalam melaksanakan tugas-tugas tertentu dan kompetensi “sosial” yang berkenaan dengan hubungan orang lain. 

Banyak isu atau permasalahan dan hipotesis yang masih harus diuji kembali sehubungan dengan kelas sebagai system pendidikan ini.  Permasalahan pertama adalah mengenai besar kelas dalam arti banyaknya pelajar per kelas. Dewasa ini sebuah kelas sebanyak 48 orang di SD,SLTP,SLTA serta 50 orang di Perguruan Tinggi di Negara kita di anggap standar. Di sekolah swasta dan pada kelas-kelas tertentu di  Perguruan Tinggi jumlah tersebut seringkali dilampaui. Permasalahan yang muncul adalah apakah besar kelas itu berpengaruh terhadap prestasi atau hasil belajar yang di capai para pelajar? Tampaknya umum telah sepakat bahwa antara kedua hal tersebut terdapat korelasi negative yang cukup signifikan. Makin kecil ukuran kelas,makin baik prestasi belajar yang di capai. Atas dasar inilah rasio (perbandingan)guru-murid dapat dijadikan indicator kualitas hasil belajar. Makin besar nilai rasio itu,makin tinggi kemungkinan nilai hasil belajar yang dihasilkan. Di kalangan guru sering terungkapkan keluhan bahwa kelas yang terlalu besar sulit dikontrol dan tidak memungkinkan menggunakan metode mengajar yang lebih efisien. Guru bahkan mendapat kesulitan mengenali anak didik nya dengan baik,akan tetapi dipihak lain kelas yang terlalu kecil kurang menarik bagi guru. Situasi semacam itu juga bisa menurunkan prestasi belajar. Persoalan yang muncul adalah dari situasi itu adalah ukuran kelas yang merupakan kondisi yang paling optimum. Agaknya mengenai hal ini belum adanya jawaban.

Permasalahan berikut adalah mengenai homogenitas warga kelas. Dilihat dari segi tertentu pada umumnya warga sebuah kelas dapat dikatakan homogeny misalnya dari segi usia dan kemampuan pada bidang tertentu. Di lingkungan taman kanak-kanak sampai SLTA homogenitas dalam usia itu sangat tinggi.

Homogenitas jenis kelamin di sekolah-sekolah negri tidak lagi merupakan persoalan, dalam arti anak laki-laki dan perempuan dapat melamar menjadi pelajar di sekolah manapun. 

3.      Interaksi Sosial dalam Kelas
Fungsi edukatif formal yang diemban oleh sekolah terutama berlangsung dalam kelas. Disini berlangsung interaksi antara guru dengan pelajar yang secara formal diprogramkan dan dilaksanakan paling intensif. Selain interaksi antara guru dengan pelajar, dalam kelas  juga terjadi  interaksi antar pelajar. Kedua macam hasil interaksi dalam kelas ini berpengaruh besar terhadap prestasi belajar itulah sebabnya interaksi ini akan mendapat perhatian-perhatian khusus. 

Interaksi atau saling berhubungan dan saling mempengaruhi antar warga suatu kelompok, dalam hal ini kelas melahirkan apa yang biasa dinamakan iklim atau suasana kelas. Interaksi antar individu dalam kelas ini dilandasi oleh peraturan-peraturan yang berlaku untuk sekolah secara keseluruhan. Akan tetapi peraturan-peraturan mekandasi interaksi itu sama untuk setiap kelas dalam suatu sekolah, diantara kelas-kelas terdapat perbedaan suasana yang kadang-kadang cukup jelas. Ini berarti bahwa interaksi merupakan factor dominan bagi suasana kelas. 

Suasana atau iklim kelas akan terasa apabila kita beberapa saat lamanya berada dalam sebuah kelas. Ada kelas yang “hidup” dengan pelajar-pelajar yang aktif dan responsive, selain kelas yang “mati” dengan pelajar yang pasif , dan ada pula kelas yang bersuasana ribut dan nakal disamping tenang dan tertib. Ada berbagai isu berkenaan dengan suasana kelas ini. Termasuk didalamnya isu tentang hubungan , ketaatan terhadap aturan (disiplin), kepemimpinan, kerjasama, dan toleransi, persaingan dan pertentangan, dorongan belajar, kekompakan dan persatuan dalam menghadapi tantangan dari luar, dan dominasi kelompok. Berbagai pertanyaan dapat disusun atas dasar isu-isu tersebut, yang selanjutnya dapat dijadikan pertanyaan penelitian. 

Dari sejumlah penelitian mengenai isu-isu  tentang suasana atau iklim kelas tersebut dan isu-isu lainnya. Salah satu diantaranya menyimpulkan bahwa aspek-aspek iklim atau suasana kelas itu tidak memberikan dampak yang sama kepada orang-orang atau pelajar yang berlainan. Ini berarti bahwa suasana yang mendorong seorang pelajar untuk lebih berprestasi belum tentu merupakan factor yang mendorong pula bagi pelajar yang lain, meskipun pada umumnya pengaruh kehangatan dan keakraban lebih merata.

4.      Pimpinan Lembaga / Sekolah, Guru, dan Karyawan non Guru
Pada tingkat lembaga atau sekolah terdapat tiga kategori karyawan yaitu pimpinan lembaga atau sekolah, guru dan karyawan non guru. Ketiga kategori karyawan ini mempunyai status dan peran yang berlainan, yang karnanya menuntut persyaratan dan mengemban tugas yang berlainan. Berkenaan dengan itu setiap kategori mempunyai karakteristik cultural yang berlainan.

Pimpinan sekolah atau lembaga mungkin hanya terdiri atas satu orang seperti kepala sekolah di SD, atau dua orang yang meliputi kepala sekolah dan wakilnya di SLTP dan SLTA. Di perguruan tinggi, tergantung kepada tingkat ke organisasiannya kepemimpinan lembaga di pegang oleh beberapa orang yang jumlah serta strukturnya berlain-lainan tergantung pada tingkat ke lembagaannya. Pada dasarnya mereka mempunyai fungsi yang bersamaan yang meliputi penyelenggaraan fungsi dan tugas lembaga. Makin besar lembaga yang dipimpinnya makin kompleks organisasinya akan makin penting peran dan tugas koodinatif yang harus dilakukan,dengan sendirinya akan makin besar beban tanggung jawabnya yang dipikulnya.

Pimpinan berada pada posisi persimpangan antara berbagai kepentingan yang kadang berlawanan arah satu sama lain. Ia di tuntut pertanggung jawabannya mengenai tugas-tugas yang diberikan dari atas,tetapi ia juga adalah penanggungjawab mengenai hal-hal yang berhubungan dengan kepentingan guru dan karyawan non guru serta pelajar,antara terlaksananya kegiatan kurikuler dengan tuntutan masyarakat sekitar dan kepentingan orang tua pelajar.

Pada umumnya pejabat dipilih dari guru yang sudah cukup memiliki pengalaman,berdedikasi tinggi dan memenuhi persyaratan operasional dan moralitas,bahkan kadang-kadang juga pertimbangan politis. Akan tetapi kenyataan tersebut belum menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai belum adanya training khusus bagi calon pemimpin atau in-servise training bagi yang sudah menjabat. Sebenarnya ada dua kemungkinan strategi yang bisa ditempuh untuk memperoleh kepala-kepala yang berkualifikasi professional memadai. Selain dari yang diperoleh melalui pengalaman pribadinya yaitu pertama mempersiapkan calon melalui pendidikan khusus (latihan-latihan pra jabatan)yang betul-betul terarah,dan kedua mengangkat lebih dahulu kemudian disusul dengan memberinya latihan jabatan (in-servise training)dalam berbagai kemahiran dalam melaksanakan kepemimpinan,yang dalam hal ini sebagai kepala sekolah.

BAB III
PENUTUP

Sekolah merupakan institusi sosial yang tidak luput dari pengaruh-pengaruh kebudayaan-kebudayaan. Sebagai institusi, sekolah mempunyai sistem sosial, organisasi yang unik, termasuk pola interaksi sosial diantara para anggotanya, yang selanjutnya disebut dengan kebudayaan sekolah. Sedangkan Ruang kelas merupakan miniatur dari kelompok yang lebih besar, yaitu masyarakat karena di sana berkumpul person-person dari latar belakang status sosial dan ekonomi yang berbeda-beda, meskipun dengan struktur profesi dan peran yang sama.

Pada masyarakat modern kehidupan manusia tidak pernah lepas dari pergulatan aktivitasnya dengan organisasi. Secara historis, keberadaan organisasi merupakan cerminan tingkat kemajuan masyarakat yang sudah tinggi. Masyarakat tersebut telah mengembangkan satu bentuk perekat hubungan yang dinamakan solidaritas organik. Jenis solidaritas ini merupakan bentuk solidaritas yang mengikat masyarakat kompleks, masyarakat yang telah mengenal pembagian kerja secara rinci dan dipersatukan oleh rasa ketergantungan antar bagian. Tiap anggota menjalankan peran berbeda dan di antara berbagai peran tersebut menumbuhkan rasa saling tergantung seperti layaknya sistem hubungan antarbagian dalam organisme biologis.

Maka dari itu, sebagai studi kasus terhadap kajian ini, kita coba membaca realita yang ada di masyarakat hari ini, mengapa masih banyak masyarakat yang tidak berminat unntuk menyhekolahkan putrinya di sekolah tertentu?. Apakah sistem sosial yang dibangun dalam sekolah itu yang terimplementasikan dalam interaksi di kelas-kelas sudah sesuai dengan budaya dan kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat sekitar apa belum?.


DAFTAR PUSTAKA

•         Drs.Sutardjo Atmowidjoyo, M.pd(dkk). 2003. Sosiologi Pendidikan Pendekatan Paradigma ganda. Gorontalo: Nurul jannah
•         HAR Tilaar (2000), Pendidikan Kebudayaan Dan Masyarakat Madani Indonesia. Bandung: Remaja Rosda Karya.
•         Padil, Moch. dan Triyo Supriyatno (2007), Sosiologi Pendidikan. Malang: UIN Press.
•         http/www.sosiologi pendidikan.com 

Diposkan oleh STIT AT-TAQWA di 00.56 

Sekolah Sebagai Sistem Sosial


*Sumber: https://www.academia.edu/17836253/Sosiologi_Pendidikan
Tag : Sosiologi Pendidikan
0 Komentar untuk "Sekolah Sebagai Sistem Sosial"

Back To Top